friendship, Kids, Romance, School Life, Slice of Life, Teenager, Tragedy, Uncategorized

Crush ||| You And I (Part 1)

12 Juni 2007

Hari kedua ujian. Hari ini Windy, Sunny, dan Cloudy berhasil sampai di kelas pukul 8 lewat 45 menit. Setidaknya mereka merasa lebih tenang dan tidak terengah sampai di kelas. Hari kedua ini adalah ujian Bahasa Inggris. Ketiganya duduk di bangku yang berada di depan ruang ujian mereka dengan sebuah buku catatan di lengan mereka setelah menyimpan tas masing-masing. Belajar. Itu niat yang ada pada ketiga cewek ini.

“Otakku lola”, cetus Sunny dengan senyum lebar di wajahnya. Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang cukup ia tak suka. Menurutnya, Bahasa Inggris ini cukup ‘menipu’ sehingga kadang membuat orang lain terkecoh atau salah.

“Sama”, timpal Cloudy dengan tawa bahagia, karena mengetahui jika ia tak sendirian yang tak menyukai pelajaran ini.

“Aku males baca, gimana?”, celetuk Windy sambil menatap lurus ke depan, memiirkan apa yang akan terjadi pada ujiannya.

“Eh, Win, liat cowok yang sejajar tempat dudukmu!”, seru Cloudy dengan suara pelan sambil menyenggol lengan Windy cukup kuat, membuat Windy sedikit terdorong ke depan.

“Apaan sih, Dy?, biasa aja kali. Aku hampir jatuh nih”, protes Windy.

Windy dan Sunny mencoba menatap cowok yang ditunjukkan Cloudy. Mata Windy menyipit, mencoba melihat wajah cowok yang dimaksud Cloudy dengan jelas. Otaknya berputar. Rasanya ia kenal dengan wajah itu. Tapi, siapa?

“Siapa?”, tanya Sunny.

“Itu loh kakak kelas yang duduk depan Windy. Namanya Aditira. Aku denger dia cukup populer. Beberapa temanku ada yang naksir sama dia. Maniskan?, dia juga ramah plus bergaul sama siapa aja. Win, kamu kenalan gak sama dia?”, oceh Cloudy.

“Gak, dia gak bisa diem kalo duduk. Kesel. Ngapain aku kenalan sama dia?”, jawab Cloudy jutek.

Windy tak begitu berminat ikut terlibat dalam obrolan kedua sahabatnya mengenai Aditira. Ya, Windy berpikir jika kakak kelas itu cukup tak bisa diam. Seharian ujian kemarin, cowok itu tak bisa duduk dengan tenang dan terus-menerus berganti posisi duduk dan terkadang menyenggol sandaran kursinya sehingga meja Windy harus ikut bergetar. Tak jarang cowok itu mengajak Willy mengobrol, walau Windy tak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan, namun, terkadang tawa mereka cukup terdengar dan mengganggu konsentrasi Windy.

Teeeeet

Bunyi bel yang cukup kencang segera menghentikan obrolan Cloudy dan Sunny. Mereka dan anak-anak lain segera memasuki ruang ujian. Windy melangkah dengan perlahan sambil terus mengingat materi yang ia hafalkan. Terkadang kenignya berkerut saat ia melupakan apa yang ia hafalkan. Begitu samppai di tempat duduknya, ia segera membuka buku catatannya dan memeriksa bagian yang ia tak ingat.

“Hey”, tegur sebuah suara yang otomatis menghentikan kegiatan Windy dan membuatnya menoleh ke sumber suara.

Di depannya, Aditira tersenyum tipis. Menyapa. Namun Windy malah melayangkan pandangan bingung ke arahnya. Ia yakin tak mengenal cowok di depannya. Lantas mengapa cowok ini memanggilnya?.

“Kamu Windy kan?, temennya Willy?”, tanya Aditira pelan, diakhiri dengan senyum manis di wajahnya.

Windy menganggukkan kepalanya dan masih menatap penuh tanya megenai  apa tujuan cowok di depannya bertanya akan hal itu. Seolah mengerti kebingungan yang ditampilkan di wajah Windy, Aditira pun tersenyum.

“Aku Aditira, panggil aja Adit. Aku temennya Willy. Rumah kita deketan dan juga kita sepupu, walau jauh sih. Hehe”, jelas Aditira.

Windy menatap wajah cowok di depannya datar. ‘Terus kenapa?, bukan urusanku. Gak nanya juga’, batinnya. Tak lama Pak Damar melenggang memasuki ruang ujian dengan membawa 2 amplop coklat dan segera membagikannya. Jantung Windy berdegup cepat. Ia tak bisa memungkiri kecemasan yang menyelimutinya. Namun, ia berusaha tenang dan mengerjakannya.

“Kam punya tip-x?”, tanya Aditira yang menghentikan kegiatan Windy yang tengah membaca soal yang ada di tangannya.

Windy menatap cowok di depannya dengan pandangan kurang suka. Menurutnya cowok di depannya sok akrab dengan Windy. Kemudian Windy mengalihkan pandangannya pada tempat pensil di atas mejanya, mengeluarkan tip-x dan memberikannya pada Aditira tanpa menatapnya. Ia merasa cukup terganggu dengan tindakan sok akrab Aditira. Windy pun melanjutkan mengerjakan soal yang ada.

“Ini, makasih”, ucap Aditira sambil menyimpan tip-x Windy di mejanya.

Windy hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari soal yang ada di hadapannya. Suasana kembali hening. Aditira nampak serius mengerjakan soal yang ada di hadapannya. Tak ada obrolan.

10.30

Windy meletakkan lembar soal yang sedari tadi dipegangnya, juga alat tulisnya di atas meja. Kedua tangannya diletakkan di meja dan ia pun menelungkupkan kepalanya dengan kedua tangannya sebagai penutup. Ia menyerah mengerjakan soal yang ada, walau seluruhnya sudah terisi penuh, namun Windy yakin hampir ½ dari jawabannya itu salah.

“Udah?”, tanya Aditira.

Windy hanya menutup mata, tak merespon. Ia benar-benar merasa aneh dengan cowok di depannya. ‘Sok akrab banget’, itu yang ada dipikirannya.

“Boleh pinjem pensil?, pensil aku patah”, sambung Aditira saat menyadari Windy tak menjawab pertanyaannya.

Windy menghela nafas. Jengkel. Tapi, dia kakak kelas. Mau tak mau Windy harus menjaga sikap, bukan?. Menghargai mereka yang lebih tua. Windy menegakkan posisi duduknya dan memberikan salah satu pensil yang ia punya. Ia benar-benar berharap cowok itu berhenti bersikap sok akrab padanya.

15 menit lagi jam akan menunjukkan pukul 11. Ini berarti hanya ada 15 menit tersisa sebelum ujian berakhir. Windy kembali membaca lembar soal miliknya. Setidaknya jika ia mendapat nilai jelek, ia memiliki alasan jika ia sudah memeriksanya berulang kali.

“Ini. Makasih”, ucap Aditira dan meletakkan pensil yang ia pinjam di atas meja Windy.

Windy hanya mengangguk sebagai tanggapan dari ucapan Aditira.

15 menit kemudian Pak Damar menarik lembar soal dan lembar jawaban milik seluruh siswa. Kelas menjadi cukup ribut, karena sebagian siswa mulai mengobrol dengan temannya. Windy mengambil tasnya dan memasukkan tempat pensil miliknya. Ia ingin segera sampai rumah dan tidur, atau bermain game. Ujian membuatnya cukup lapar.

“Kamu kenal Willy gak selain di tempat les?”, tanya Aditira sambil menatap Windy.

“Hmmm. Gak. Kenapa emang?”, jawab Windy tak berminat.

“Dia sebenernya gak pendiem loh. Aku kaget ngeliat dia pendiem gitu di tempat les”

“Oh. Aku gak tau banget sih”

“Sampai ketemu besok”

Windy hanya menatap punggung Aditira yang mulai meninggalkan ruangan. Ditatapnya sosok Willy yang tengah membereskan perlengkapannya. Willy yang Windy kenal memang cukup pendiam. Jadi, Windy tak tau seperti apakah Willy di tempat lain.

Sadar jika dirinya diperhatikan, Willy mempercepat gerakannya lalu menoleh pada Windy dan tersenyum tipis sebelum berlari keluar ruangan. Windy hanya mengerutkan keningnya bingung.

‘Aku kan bukan hewan buas. Kenapa lari gitu sih?’, batin Windy sebal.

=======>>><<<=======

13 Juni 2007

Seperti hari kemarin, hari ini ujian masih berlangsung. Hari ini giliran materi Matematika yang jadi bahan ujian. Mama Windy memanglah seorang guru Matematika, namun Windy tak begitu bagus dalam pelajaran ini. Walau memang tak buruk banget.

Hari ini mereka bertiga tiba di ruang kelas 15 menit sebelum ujian di mulai. Ketiganya memutuskan untuk duduk dan mengobrol di kelas.

“Win, kamu akrab sama Kak Adit?”, tanya Cloudy heran.

Cloudy hanya tau jika Windy tak bisa akrab dengan siapapun begitu mudah. Ia cukup kaget saat kemarin mendapati Aditira mengajak Windy mengobrol beberapa kali.

“Gak ah. Akrab dari mana?. Aku digangguin dia terus. Kesel”, balas Windy.

“Eh, Win. Kamu tau kakak kelas yang duduk di depan Kak Adit?. Namanya Kak Riena. Yang aku tau Kak Riena ini suka sama Kak Adit dan udah cukup lama deketin Kak Adit. Tapi Kak Adit gak respon terus. Waktu kemarin kamu ngobrol sama Kak Adit, Kak Riena liatin kalian tau. Tatapannya itu loh. Tatapan kaya mau bunuh orang aja. Haha. Hati-hati loh, Win”, oceh Cloudy.

“Dih, salah aku apa coba?. Ngapain aku harus hati-hati?”, jawab Windy.

“Kamu emang gak ada perasaan gitu ama Kak Adit?”, tanya Sunny.

Windy menggelengkan kepalanya. Windy sebenarnya tak begitu paham dengan apa yang dibicarakan kedua sahabatnya. Ia tak mengerti ‘perasaan’ yang dimaksud sahabatnya itu apa dan mengapa Riena tak menyukainya.

Setelah berbincang sekitar 10 menit, Windy memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya. Setidaknya ia harus menghafal materi yang akan diujikan hari ini. Kakinya melangkah meninggalkan tempat duduk Cloudy. Windy penasaran dengan sosok Riena yang tadi dibicarakan Cloudy, hingga ia pun menoleh, mencari sosok Riena. Ia menatap meja pertama di barisannya. Didapatinya seorang cewek dengan rambut lurus sepunggung berwarna hitam. Kulitnya sawo matang. Pipinya tembem dengan ukuran mata yang nampak lebih normal daripada mata sipit Windy. Riena menatap Windy tajam. Matanya mengamati Windy dari atas hingga bawah, cukup membuat Windy risih. Windy segera duduk di kursinya.

“Kamu gak telat lagi hari ini?”, tanya Aditira.

Windy hanya manatap wajah Aditira tanpa merespon.

“Eh, Win. Willy suka kamu loh”, seru Aditira dengan senyum lebar di wajahnya.

“Eh, apa sih. Kok bawa-bawa aku?”, protes Willy sambil memukul lengan Aditira.

Windy hanya mengerutkan keningnya sambil menatap Aditira tak suka.

“Gak kok, Win. Dia bohong”, jelas Willy salah tingkah.

Windy hanya mengangguk menanggapi perkataan Willy.

“Eh, Win. Kalo kamu punya pacar, kamu mau jalan kemana?. Tempat kayak apa?”, tanya Aditira sambil menolehkan kepalanya menatap Windy.

Windy hanya terdiam tak berminat menanggapi dan lebih memilih menghafalkan materi ujian.

“Ke luar kota?. Ke desa Sadera aja!. Kamu mau ke sana gak?. Keren loh tempatnya”, sambung Aditira.

“Dit, kamu gangguin Windy tuh”, bisik Willy pelan, namun masih bisa terdengar oleh Windy.

“Kamu kok banyak diem sih, Win. Ngobrol aja gak apa-apa”, sambung Aditira tak menghiraukan ucapan Willy.

Windy masih mengabaikan kakak kelasnya yang makin menyebalkan di mata Windy. Ia heran karena cowok yang ia temui ternyata cerewet. Padahal yang ia tau cowok itu gak cerewet. ‘Mungkin spesies langka’, batin Windy.

Aditira masih terus mencoba mengajak Windy untuk mengobrol. Dari mulai mengajukan pertanyaan hingga membuat lelucon bersama Tian, kakak kelas yang duduk di samping kanan Windy dan William, kakak kelas yang duduk di samping kiri Windy. Lelucon yang masih bertemakan pacaran yang sebenarnya tak dipahami oleh Windy. Selama ini yag ada di otak Windy hanyalah bermain. Kata pacaran dan cinta  atau suka merupakan kata baru baginya. Otaknya masih mencari tau arti dari kata-kata itu.

Obrolan Aditira terhenti ketika Bu Cardella memasuki ruang kelas dan mulai membagikan lembar soal dan lembar jawaban. Windy merasa bersyukur akhirnya keadaan sekitarnya hening juga. Windy segera mengerjakan soal yang ada di hadapannya. Beberapa kali pandangannya mengarah pada punggung Aditira, memastikan jika cowok itu tidak menengokkan kepalanya dan mulai mengucapkan kalimat aneh untuk mengganggunya. Aditira nampak serius mengerjakan soal, karena ia tidak melirik sekali pun pada Windy. Ini membuatnya cukup tenang.

Teeeeet

Bunyi bel memecahkan keheningan di ruangan ujian. Seketika kelas mulai gaduh. Beberapa anak mengomel kesal karena belum tuntas mengerjakan seluruh soal yang ada, beberapa hanya berteriak kesal, dan berbagai kegiatan lain.

Windy menelungkupkan wajahnya di meja dan menutupinya dengan kedua tangannya. Kepalanya terasa ingin pecah. Ia terus mengingat beberapa soal yang tak sempat ia kerjakan dan beberapa soal yang ia yakini dijawab salah.

Aditira masih saja mengobrol dengan William dan Tian juga Willy dengan tidak tenang. Ini cukup membuat Windy kesal. Windy meluruskan punggungnya dengan kening berkerut. Tanpa sadar pandangannya menatap wajah Riena yang tengah menatapnya dengan tatapan benci. Windy yang benar-benar tak mengerti hanya menatapnya. Riena memalingkan wajahnya kesal yang semakin membuat Windy heran. Segera Windy beranjak meninggalkan tempat duduknya, menghampiri kedua sahabatnya.

“Kamu kenapa?”, tanya Sunny heran ketika menatap wajah Windy yang nampak jengkel.

“Kakak kelas yang kalian omongin. Beneran nyebelin. Dia gak bisa diem. Kalo gak ngomong ya badannya gak bisa diem. Kesel aku”, jelas Windy.

Kedua sahabatnya hanya tertawa mendengarkan protes yang diajukan Windy. Ketiganya pun berjalan meninggalkan ruangan dan segera menuju rumah masing-masing.

=======>>><<<=======

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s