friendship, Kids, Romance, School Life, Slice of Life, Teenager, Tragedy, Uncategorized

Crush ||| Meeting

9 Juni 2007

“Dy, Sun!, kalian ruang berapa?, kita sekelas kan?, hwaaa aku ga mau pisah”, teriak Windy kecil dengan heboh.

“Aduh, Win, kamu nyantai kenapa?, heboh banget. Kita seruangan kok”, jawab Sunny gemas.

Cloudy, Windy, dan Sunny, 3 sahabat yang saling mengenal sejak masuk ke tempat les yang sama. Kukuri Class. Sebuah tempat les yang menyediakan layanan pembelajaran tambahan untuk beberapa mata pelajaran di sekolah, dari tingkat SD sampai SMA. Tiap tingkat memiliki satu ruang kelas dimana tiap kelas hanya berisi 10-20 orang siswa saja. Hal ini membuat pembelajaran lebih nampak private. Kukuri Class sengaja tidak membuka banyak kelas, karena tempat les ini hanya menaruh perhatian pada mereka yang benar-benar mau bersungguh-sungguh belajar dan berkeinginan untuk belajar saja. Namun, jika memang calon siswa yang ada cukup banyak dan melampaui kuota yang ada, Kukuri Class siap untuk membuka kelas tambahan.

Pembelajaran di Kukuri Class berlangsung seminggu 2 kali. Dimana siswa akan mempelajari mata pelajaran yang sama dalam seminggu. Les diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 9 pagi hingga 3 sore, karena 2 hari itu merupakan hari libur bagi anak sekolah. Setiap selesai 1 semester, Kukuri Class juga memberikan waktu libur yang disesuaikan dengan libur yang disediakan oleh sekolah yang ada. Hal ini dimaksudkan agar siswa mendapatkan hari libur untuk menenangkan pikiran mereka. Kukuri Class juga menyajikan ujian layaknya jadwal sekolah yang akan dilaksanakan seminggu sebelum ujian sekolah berlangsung. Hal ini dilakukan dengan harapan agar siswa memiliki gambaran akan soal yang mungkin muncul saat ujian sekolah nanti juga sebagai ajang latihan sebelum ujian.

Tempat les yang dianggap sekolah kedua ini tak memiliki murid yang begitu banyak, alasannya, beberapa anak lebih memilih untuk bermain di waktu senggang daripada belajar dan mendapat nilai yang lebih tinggi saat di sekolah. Alasan yang logis. Windy pun sebenarnya tak ingin masuk ke tempat les, jika saja orang tuanya membiarkan putrinya menghabiskan waktu senggang untuk bermain. Nyatanya, orang tua Windy ingin Windy memanfaatkan waktu senggang dengan hal yang lebih positif, sehingga mereka memasukkan Windy ke tempat les ini.

Senin depan adalah jadwal ujian Kukuri Class. Untuk menghindari adanya kegiatan mencontek, Kukuri Class berinisiatif untuk mencampur ½ siswa di satu kelas pada tingkat tertentu dengan ½ siswa di tingkat lainnya. Kelas Windy di bagi dua dan digabung dengan kelas 2 SMP. Kebetulan Windy, Sunny, dan Cloudy berada di kelas yang sama. Windy merasa agak tenang mengetahui dirinya tak terpisah dari 2 sahabatnya.

‘Siap-siap buat ujian minggu depan. Semoga soalnya ga susah banget deh’, batin Windy mulai cemas.

=======>>><<<=======

11 Juni 2007

Berulang kali tangan kanan Windy membenahi rambutnya dan tatapannya tak beralih dari cermin yang berada di hadapannya. Poni menutupi keningnya dan rambut bergelombang sebahunya ia biarkan terurai. Setelah beberapa kali memutar tubuhnya untuk memastikan penampilannya, ia masih tetap meraih sisir di mejanya dan kembali menyisir rambutnya. Keningnya mengernyit menatap pantulan dirinya di cermin. Ia segera mengambil ikat rambut yang tergeletak di atas buku hariannya dan mulai mengikat rambutnya ke samping.

“Win, cepet!, Cloudy sama Sunny udah di depan, Sayang. Nanti kamu telat”, suara Mama terdengar memecah keheningan di kamar Windy.

“Iya, Ma. Aku udah beres ko, bentar, bawa buku dulu”, sahut Windy yang segera mencari buku Bahasa Indonesia dan memasukkannya ke dalam tas.

Kakinya mulai melangkah terburu setelah ia melihat jam di dindingnya yang menunjukkan pukul 8 pagi. Windy hanya memiliki waktu 1 jam sebelum ujian berlangsung. Tak sengaja ia membanting pintu kamarnya, menimbulkan kegaduhan yang membuat Mamanya mengomel.

“Makan dulu!”, seru Mama sambil membawa segelas susu menghampiri putri pertamanya.

Dengan terburu Windy meraih gelas itu dan menegak habis susu yang ada di dalamnya dengan terburu. Matanya terbelalak ketika melihat jam di ruangan itu menunjukkan pukul 8 lewat 15 menit.

“Ma, aku berangkat dulu ya. Doa’in semoga ujiannya lancar. Dadah Mama, Rinrin”

Windy meraih tangan Mamanya dan mengecupnya sebelum tangan kanannya melambai dan kakinya melangkah keluar rumah dengan tergesa.

“Hosh…hosh…maaf telat. Hehe”, seru Windy dengan tawa di wajahnya saat kakinya berhenti di depan kedua sahabatnya yang tengah menunggunya di depan gerbang rumahnya.

“Win, kamu ya. Cepetan ih!, kita hampir telat”, protes Sunny dengan wajah jengkel.

“Win, kamu lama banget, kita udah nunggu hampir ½ jam tau”, timpal Cloudy.

“Maaf-maaf, yuk berangkat!”

Ketiga gadis itu berjalan berdampingan menuju Kukuri Class yang berjarak kurang lebih 1 km dari rumah Windy. Sebenarnya beberapa meter dari rumah Windy ada halte bus yang akan melewati Kukuri Class. Hanya saja ketiganya lebih memilih berjalan kaki, karena mereka bisa melewati bukit Friedlich. Kukuri Class memang berjarak sekitar 200 meter dari bukit itu. Mereka lebih memilih berjalan kaki dan melewati bukit Friendlich, karena pemandangan indah yang ada di bukit itu serta kesunyian yang ada setidaknya mampu mengurangi tingkat stress mereka.

40 menit kemudian ketiganya sampai di pintu gerbang Kukuri Class. Setelah terdengar bunyi bel, ketiganya segera berlari mencari ruang ujian mereka dan tempat duduk mereka. Dengan nafas terengah Windy mencari-cari kursinya.

“Win, kamu duduk di paling belakang di pojok, meja kedua!”, sebuah suara cukup keras membuat Windy menoleh dan mendapati Viola tengah menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya.

Bibir Windy tertarik membentuk senyuma tipis. Kakinya melangkah menuju tempat yang ditunjukkan Viola.

“Makasih, La”, seru Windy saat tubuhnya berpapasan dengan Viola.

Viola hanya memberikan senyuman sebagai balasan ucapan Windy.

Brakkk

Tanpa sadar Windy menjatuhkan tasnya ke atas meja dengan cukup keras. Nafasnya masih terengah akibat berlari. Wajahnya segera ia telungkupkan ke atas meja, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena panas tubuhnya. Tak lama pandangannya menatap ruang kelas yang sudah terisi penuh. Ruangan itu diisi 15 siswa. 5 dari kelasnya dan 10 orang dari kelas 2 SMP. Tempat duduk diatur cukup renggang. 5 set kursi dan meja di susun menyamping dengan 2 kursi lain mengikuti kursi di depannya yang berjajar ke belakang. Di sudut setiap meja terdapat nomor ujian yang sesuai dengan nomor yang tertera pada kartu ujian yang siswa itu pegang.

Tempat duduk dibuat bergilir antara siswa kelas 5 SD dengan kelas 2 SMP. Hanya saja 1 barisan paling depan diisi oleh 5 siswa kelas 2 SMP. Windy menempelkan dagunya di atas meja dan menarik nafas cukup panjang. Ia tak mengira jika orang yang akan duduk di depan maupun sampingnya semuanya cowok. Ia terpisah cukup jauh dari dua sahabatnya. Viola, cewek kelasnya yang duduk ‘lumayan’ dekat dengannya pun berada di posisi diagonal darinya. Dan, well, itu cukup jauh.

Pandangan mata Windy beralih pada sosok cowok di depannya dengan dagu yang masih menempel pada meja dan kedua tangan yang memeluk tas di depan wajahnya. Punggung cowok di depannya nampak bersandar pada sandaran kursinya, kepalanya sedikit miring, entah apa yang sedang dilakukannya, Windy tak dapat melihatnya karena terhalang punggung cowok itu. Rambut hitamnya nampak lembut dengan bagian belakang rambut menutupi hampir ½ lehernya. Windy tau jika cowok di depannya adalah kakak kelas.

Windy mengubah posisi kepalanya. Kini pipi kirinya yang menempel di meja. Pandangannya menangkap sosok Willy, salah satu teman sekelasnya. Cowok yang tak begitu akrab dengan teman cewek di kelasnya. Pendiamkah?, tapi ketika ia bersama dengan teman cowoknya, ia nampak seperti makhluk normal yang suka berbicara maupun bercanda. ‘Mungkin dia anti cewek’, itulah yang terpikir oleh Windy.

Windy mengalihkan pandangannya ke lengan kirinya. Sebuah jam berbentuk Minnie mouse berwarna pink cerah melingkari lengan mungilnya. Keningnya berkerut saat dilihatnya jam digital itu menuliskan angka 9:10. Tapi tak ada satu pun guru yang masuk ke ruangannya untuk memulai ujian. Ruangan yang tadinya cukup hening mulai gaduh karena beberapa memulai obrolan dengan temannya.

‘Apakah ujiannya dibatalkan?’, batin Windy.

Windy menegakkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua tangannya memindahkan tas yang ada di atas meja ke pangkuannya. Diambilnya tempat pensil berwambar Princess Bella dari tas dan meletakkannya di hampir tepi meja di depannya. Tangan kanannya mengeluarkan pensil dan mulai menggenggamnya. Pandangannya kembali menatap cowok yang ada di hadapannya. Cowok itu nampak menoleh ke arah Willy dan mengajaknya berbincang. Windy cukup kaget karena melihat Willy tersenyum pada kakak kelas itu. Yah, Windy jarang sekali melihat Willy tersenyum.

‘Apa Willy mengenalnya?’, batinnya.

Windy tak peduli, ia kembali menatap jam digital di lengannya yang terus bergerak dan akan menunjukkan angka 9:15 menit. Tak lama Bu Mondy memasuki kelas dengan 2 amplop coklat di lengannya. Senyum ramahnya malah membuat suasana menjadi lebih hening dan tegang. Pandangan mata Bu Mondy menjelajahi isi kelas, memastikan jika semua siswanya telah berada di kelas dan mulai memberikan arahan pengisian soal. Setelah memastikan jika siswanya memahami apa yang ia sampaikan, barulah ia membagikan sehelai lembar jawaban dan beberapa helai lembar soal. Selesai membagikan, semua siswa mulai mengisi tiap pertanyaan yang tersaji dengan tenang. Mungkin terlalu gugup. Namun, hal ini menciptakan suasana kelas yang cukup sepi. Hanya suara sepatu Bu Mondy yang terdengar mengisi ruangan itu. Bu Mondy berjalan mengitari tiap celah yang memisahkan tiap siswa, memastikan agar tak ada satu pun siswa yang mencontek.

=======>>><<<=======

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s