Kids, Romance, School Life, Slice of Life, Teenager, Tragedy, Uncategorized

Crush ||| Opening

Hi, there #wave right hand#

I’m trying to write a novel (?). Hehe. Nyoba nulis novel (?), tapi aku gak yakin bagus sih. FF?, bukan, maafkan #bow#. Ini cerita…fiktif kali ya. But, ada sih yang based on true story. Apanya?, haha that’s secret. Find out if you can ^^. Hope you enjoy this.

(Note: Insyaallah ampe tamat aku publish, ini sebenernya tinggal some scenes, but I’m kinda lazy hehe)

Let’s check it out (?)

====—====—====—====

Semilir angin berhembus menyentuh rerumputan dan dedaunan yang ada, membuat mereka bergoyang lembut mengikuti arah angin dengan perlahan. Langit menampakkan warna biru muda terlihat cukup cerah, karena mentari mampu memancarkan sinarnya dengan cukup bebas, tanpa terhalang banyaknya awan.

Windy, gadis berpakaian cream dengan hiasan biru muda tersenyum menatap langit yang cukup cerah sambil duduk di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Bibirnya tertarik membentuk senyuman yang membuat wajahnya nampak berseri. Tangan kanannya menyentuh rerumputan yang menjadi alas duduknya, sedang tangan kirinya memeluk tumpukan beberapa buku yang ia simpan di pangkuannya, menjaganya agar tak jatuh. Punggungnya bersandar pada batang pohon dan mencoba menenangkan perasaannya. Perlahan matanya terpejam.

Tak banyak aktivitas yang terjadi di sekitar Windy berada, karena itu adalah sebuah bukit yang memang sengaja tidak ingin dijadikan tempat penduduk bekerja, karena penduduk setuju untuk menjadikannya sebagai salah satu tempat untuk bersantai saat mereka memerlukan tempat dengan suasana yang tenang. Bukit itu tak begitu jauh dari rumah penduduk, namun, beberapa meter setelah keluar dari gapura desa, ada cukup banyak pohon tinggi yang akan ditemukan sepanjang jalan menuju bukit itu. Bukit yang diberi nama Bukit Friedlich.

Tak berapa lama, kedua mata Windy terbuka dan pandangannya kembali menatap langit. Kedua tangannya memangku beberapa buku yang ada di pangkuannya dan memindahkannya ke samping kiri tubuhnya. Tangan kanannya mencoba membawa sebuah buku yang berada paling bawah, sedang tangan kirinya mencoba mempertahankan tumpukan buku itu agar tidak jatuh. Pandangannya menatap sampul buku yang kini ada di pangkuannya.

Cerita Pertama

Kalimat itu tercetak di atas buku dengan huruf yang tidak begitu rapi dan ukuran yang cukup besar hingga menghabiskan hampir 1/3 halaman buku. Di bawah kalimat tadi tertulis Windy Fransisca dengan ukuran yang lebih kecil dari kalimat pertama. Di sudut kiri buku terdapat sebuah coretan yang dianggap sebagai tanda tangan. Bibirnya tertarik menampakkan senyuman kecil saat menatap sampul buku yang ada di genggamannya. Tangan kirinya membuka sampul buku dan mendapati coretan yang merupakan tanda tangan dengan ukuran yang cukup besar hingga memenuhi halaman pertama buku itu. Tawa Windy terdengar pelan melihat halaman itu. Ia tak meyangka jika ia pernah melakukan hal itu. Tangan kirinya kembali membuka halaman selanjutnya.

13 Maret 2007

Hai hai!

Aku Windy. Hwaaa, ini hadiah ulang tahunku dari Cloudy. Bagus kan?, aku sudah menghias bukunya. Hmmm, apa yang harus aku tulis disini?, Cloudy bilang buku ini sedang populer di kota. Ah, entahlah. Hey, kenapa dia bilang disini adalah desa?, seingatku kita memiliki toko yang menyediakan berbagai macam barang, bangunan yang memiliki AC, seperti di kota. Disini juga ada beberapa kendaraan, seperti mobil, motor, kereta, layaknya di kota. Apa karena disini masih memiliki beberapa sawah dan tempat berternak?. Uh, Cloudy sering mengejekku karena tak mengetahui tentang buku ini. Eh, apakah ini boleh kutuliskan disini?

Windy kembali tertawa kecil saat membaca tulisan yang tertulis di halaman kedua. Tulisan yang cukup berantakan dengan ukuran yang tidak konsisten, terkadang kecil, terkadang huruf yang tertulis jauh lebih besar. Tulisan itu juga ditulis dengan pena merah. Itukah ia yang dulu?

Tangan kirinya kembali membuka halaman selanjutnya, karena halaman itu sudah penuh untuk menuliskan coretan tadi.

14 Maret 2007

Aku tak tau harus menuliskan apa…

Besok saja aku tulis

Windy terus membuka halaman selanjutnya, membaca tiap coretan yang pernah dibuatnya, walau kebanyakan hanya tertulis ‘Aku akan menulis besok’. Tangan kirinya membuka pada halaman terakhir dan terdiam beberapa saat.

11 Juni 2007

Siapa dia?

Hanya sebuah kalimat tanya yang tertulis disana, namun berhasil membuat Windy terdiam. Kedua tangannya memegang tepi buku. Raut sedih tiba-tiba tergambar di wajahnya. Beberapa saat tak ada kegiatan yang dilakukan Windy, hanya duduk terdiam dengan tangan yang memegang buku.

Sekitar 10 menit kemudian Windy pun tersadar dan menutup buku itu dan meletakkannya di samping kanan. Kepalanya bersandar pada batang pohon dan mulai menarik nafas panjang, seolah ia telah mengahadapi hal yang berat dan beban baginya. Beberapa menit berlalu. Windy kembali membawa buku kedua yang kini berada diurutan paling bawah di antara tumpukan buku yang ada di samping kiri tubuhnya. Dengan hati-hati ia mengambil buku itu, berharap tumpukan itu tidak terjatuh.

Cerita Kedua

Kalimat itu tercetak di bagian sampul buku yang ia bawa, masih dengan ukuran yang cukup besar dan tak begitu rapi. Ia segera membuka sampul buku itu dan mencari lanjutan dari halaman terakhir buku pertama.

12 Juni 2007

Siapa sih dia?

Apa aku mengenalnya?

Mengapa ia terus bertingkah dan membuatku kesal?

 

13 Juni 2007

Aku tak menyukainya. Tak bisakah ia diam?

 

14 Juni 2007

Ia tak banyak menggangguku. Kenapa?

 


 

15 Juni 2007

Dia…menolongku. Apa dia orang yang baik?

 

16 Juni 2007

Mengapa aku terus memikirkannya?, mengapa ia jadi pendiam?, apa aku benar menyukainya?, Sunny bilang ini cinta. Sebenarnya, apakah itu?

 

Tangan kirinya berhenti membuka halaman setelah membaca halaman coretan tanggan 16 Juni 2007. Kepalanya kembali bersandar. Matanya terpejam, seolah ia tak sanggup membuka mata, karena ia tau, ia sedang menahan airmata yang bersiap untuk meluncur. Kini pikirannya melayang, membawanya mengenang masa dimana ia pertama kali bertemu dengan ‘dia’.

===>>><<<===

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s